Thursday, July 7, 2022
To Be Stranger Again
Monday, June 27, 2022
Ketiadaan
Thursday, June 23, 2022
The Reason
Monday, May 9, 2022
Apa Kabar Rasa?
Ada yang ingin kutulis
Mengingat baru saja kulihat film terusan lama
Tentang sebuah keputusan yang tertunda
Tentang temu kembalinya dua insan manusia
Setelah lama terpisah oleh keadaan
Ada yang ingin kutuang
Ada yang ingin kutumpahkan
Di sela sebelum waktu kembali memanggang
Ada hati yang gaduh
Ada cinta yang terlalu rapuh
Benih yang tak kunjung ranum
Pun kedukaan tak begitu anggun
Bukan tentang cinta yang tega
Meninggalkan tunangannya
Atau perjuangan seorang pria dengan puisinya
Secarik kertas— surat menyurat lewati dinding halaman teratas
Apa kabar rasa?
Kau yang selalu ada
Di kamar tidur, meja makan, dan ruang tamu
Di sepeda motor, restoran-restoran, apartemen hingga gedung berkaca
Masih tentang hati yang gaduh
Dalam kandungan tinta lama
Di secarik kertas usang— menguning
Tersurat ia kepada jagat
Bukan demi pundi-pundi duniawi
Bukan pula untuk dibongkar traktor-traktor masa kini
Kudandani ia begitu cantik— menurutku saja
Apa kabar rasa?
Pria dengan luka menganga
Panah dilepas dalam warna berbeda
Duri tenggelam di wajah aslinya
Apa kabar rasa?
Apakah semua ini hanya rekayasa?
Saturday, November 14, 2020
Jatuh dan Cinta
Aku jatuh cinta…
Aku jatuh cinta pada seseorang yang hanya sanggup aku gapai sebatas punggungnya saja.
Seseorang yang hanya sanggup aku nikmati bayangannya, tapi tak akan pernah bisa kau miliki.
Seseorang yang hadir bagaikan bintang jatuh sekelabat kemudian menghilang begitu saja,
tanpa sanggup tangan ini mengejarnya.
Seseorang yang hanya bisa aku kirimi isyarat sehalus udara, langit, awan, atau hujan.
-Dee
Monday, October 26, 2020
Pukul 4 Pagi
Tidak ada yang bisa diajak berbincang.
Dari jendela kau lihat bintang-bintang sudah lama tanggal.
Lampu-lampu kota bagai kalimat selamat tinggal.
Kau rasakan seseorang di kejauhan menggeliat dalam dirimu.
Kau berdoa: semoga kesedihan memperlakukan matanya dengan baik.
Kadang-kadang, kau pikir, lebih baik mudah mencintai semua orang daripada melupakan satu orang.
Jika ada seorang telanjur menyentuh inti jantungmu,
Mereka yang datang kembali hanya akan menemukan kemungkinan-kemungkinan.
Dirimu tidak pernah utuh. Sementara kesunyian adalah buah yang menolak dikupas.
Jika kau coba melepas kulitnya, hanya akan kau temukan kesunyian yang lebih besar.
Pukul 4 pagi. Kau butuh kopi segelas lagi.
Wednesday, October 21, 2020
Sebelum Hujan Reda
Sebelum hujan reda
Aku tak sempat berteduh
Sebab rintiknya adalah puisi
Dan rinainya adalah kamu
Di bawah derai yang deras
Deru dadamu kudengar berdetak
Berdentum bagai angin yang silir
Berdebar bagai napas yang sengau
Sebelum hujan reda
Gelombang matamu membanjiri segenap mataku
Dan membasahi rindu
Yang kubawa dari perjalanan
Aku berjalan di antara hujan
Yang perlahan reda
Sedang di jalan itu,
Rindu kian deras
Membasahi pipimu yang landai
Dan mengguyur tubuhmu yang jatuh
Ke dalam pelukan hujan
Yang tak pernah reda
Sebab kau menjadi derai dan derasnya.
-MHK-
Friday, October 16, 2020
Kabar Hari Ini
Kudengar kabar hari ini
Bahwa angin enggan berembus
Matahari meminang sinarnya sendiri
Tak rela ia biaskan pada bumi
Sebab kau.
Sebab kau yang memintanya.
Kudengar kabar hari ini
Senja sore nanti,
Ia tak akan memamerkan warnanya
Sebab ia malu
Pada warna yang merona
Di antara lekuk bibirmu
Dan dua matamu.
Kabar tentang hujan hari ini
Kuhentikan dengan kata
Dengan gerimis yang tak jadi kau genggam
Dengan rindu yang tak jadi kau bungkam.
Kudengar kabar
Kau akan mengusik senja
Jika ia berani mengusik matamu.
Jakarta, 041218
-MH. Kholis-
Thursday, July 16, 2020
Hujan
Friday, March 13, 2020
If You Fall Now
Monday, January 6, 2020
The Best Version of Yours
Friday, January 3, 2020
Strength
Tuesday, August 6, 2019
Cukup
Petang ini, kupinjam wujudmu
yang mengingkar dengan kejam;
beri sayap untuk dipatahkan–
Sungguh perih tak terelakan
Tegur sapamu hanyalah padam
berpendar dalam nyala kunang-kunang
merindu akan lenyap--memudar
tersadar
dari mimpi-mimpimu
yang tak dapat kurengkuh
Termangu dalam ramai kesepian
hanyut dalam harap–tak berhulu
tangkap desir syahdu kekecewaan–dalam bising
yang kian lama makin meruap
Adamu adalah sorai yang senyap
dalam riuh kepulangan cericit burung yang sedih
di tengah hujan
yang nyata hanyalah rana; merona di pipimu menyala
denganmu, abadi adalah fana
dan malam berkunjung ke rumahku menanyakan mati
Dari karsamu dan sedikit rasa
yang perlahan mulai menepi
jauh dari beranda mataku
jauh dari jalan-jalan yang pernah kita lalui
- Jakarta Di Ujung Pena
SABUR; LEBUR
-
Setahun pertama aku sentosa
Didekap hangat rahimnya
Juga akrab dengan hati ibunda
Sampai-sampai aku dibangunkan semesta
Lalu luka-luka terbit
Beserta keseriusan yang menjerit
Lambat pasal-pasal berdecit
Yang akhirnya bebasku menyempit
Dua tahun pertama aku sejahtera
Tertidur dalam gendongan ayah
Mencintainya tanpa luka
Sampai-sampai aku ditikam realita
-
Semua tak lagi sama
Duka tak pernah ingin sirna
Menghujani hati penuh luka
Tanpa henti tanpa jeda
-
Lidah kelu tiada kata
Tangis pecah tiap pukul tiga
Tergerus aku oleh air mata
Mendamba bahagia tetapi merana
-
Aku pikir akan terus bahagia
Baik-baik saja pun tak selamanya bisa
Sebab luka yang terus tercipta
Membuatku sesak menelan air mata
-
Kini bahagiaku telah terganti
Oleh pekatnya luka tanpa henti
Mencoba menggores setiap sisi
Hati yang tiada utuh lagi
-
Ibu ayah,
Semoga saja kita tak limbung; dilumat isak tak berujung.
— 2019.
Tuesday, March 19, 2019
Kau Pasti Tidak Akan Ada Lagi
Jika ada yang bisa menerima luka lebih tabah dari hujan bulan juni, tentu ia adalah bibirmu. Samudra maha luas yang menenggelamkanku pada harapan dan kepasrahan pada waktu bersamaan.
Aku suka samudra sejak langit matamu memantulkan mataku. Aku luka—dan kalian adalah biru. Lalu dalam gelombang kembara di tubuhmu, kutemukan sisa-sisa aku yang kambang berserak di bilik-bilik cilik dalam dadamu. Kau adalah yang paling aku—harapan serupa lampion yang kelak takut kurela pada laut lepas. Sebab, mengutuhkan kita pasti akan menjadi palung yang paling.
Kita masih serupa anak kecil yang selalu saja mendamba peluk satu sama lain. Atau, kalau keakuan sedang kerdil, kita suka sekali main berlama-lama di bawah sinar matahari tanpa memikirkan bagaimana kusamnya kulit kita nanti.
Namun, aku tidak ingin menjadi seperti itu lagi. Karena, dengan sadar yang utuh, aku paham bahwa nanti kau juga akan beranjak pergi—ke pantai, perpustakaan, luar kota, atau ke mana saja yang tidak ada aku. Maka pasti—dengan terpaksa—aku harus menyembuhkan lukaku sendirian. Aku tak punya kau lagi sebagai yang menggenggam kala ombak terlalu ganas, atau yang menyelam di kedalaman mataku untuk mereguk semua takut.
Aku kembali sendirian.
Malam kembali menyepi.
Padahal dahulu aku akrab sekali dengan rasa-rasa ini; rasa sendiri, sepi, juga gigil, tetapi tidak lagi setelah kau sempat bertandang. Aku menjadi seseorang yang tidak ingin menjalani hari tanpa menatap matamu. Menjadi yang tidak ingin hilang, terlepas—atau dilepas—, dan tidak dimimpikan.
Maka kau mutlak harus segera pergi. Aku tak ingin punya candu pada apapun yang tak bersedia kekal untukku. Mulailah bersiap, akan kusiapkan juga bekal perjalananmu, yang terbaik, pasti. Tidak apa-apa, aku cukup kuat untuk menahan luka akibat pisau-pisau ingatan yang menyayat di hari-hari yang setelah ditinggalkanmu.
Tidak apa-apa, kenangan akan kuusahakan lesap. Meski dengan begitu, aku harus terus berdarah, lalu bernanah,
lalu tidak ingin sembuh.
Thursday, February 28, 2019
Di Ujung Sunyi
Di antara keheningan hitam yang merundung
Dititipkannya diksi seribu birahi pada langit yang bisu
Dituliskannya larik-larik sajak pada bintang yang menari
Dipanjatkan sebuah rapal kata pada Tuhan pengganti kata cinta
Bukan cinta yang mekar di mata yang berujung air mata
Bukan pula cinta yang hanya sekadar guratan puisi berujung patah hati
Di ujung sunyi ku berkata
Bahwa cinta yang tadi timbulnya dalam hati agar kelak menjadi taman bunga yang merekah wangi memesona
Perangainya yang luar biasa bukan sekadar rupa
Untuk menyiasatinya rasanya tak cukup sekadar kata-kata
Maka kusiasati dengan berkata pada-Nya
Yaitu dengan cinta berwujud doa.
Sunday, February 10, 2019
H e n t i
Nanti, jika dirasa tidak kuat berhentilah sejenak.
Nanti, jika dirasa dirimu telah berat menopang bukit berbatu itu一istirahatlah sesaat.
Henti一Berhenti, bukan berarti kamu lemah. Pun, bukan berarti kamu tak kuat menopang itu semua.
Dirimu hanya perlu rehat, kamu bukan robot, sayang.
Jangan terlalu memaksakan jika dirimu tak mau tertelan.
Tertelan oleh dekapan sungkawa yang akan membinasakan-mu.
Ingat, kamu bukannya lemah.
Kamu hanya perlu Henti一Berhenti sejenak.
Atmamu butuh rehat dari segala hiruk-pikuk kehidupan ruwet yang nelangsa itu. Henti—berhenti tapi, jangan lupa untuk berdiri lagi.
Henti—berhenti untuk memaksakan dirimu tidak apa-apa,
Sedang dirimu meronta-ronta kesakitan.
Berhentilah untuk menjadi tegar,
Sedang perasaan dan pikiranmu menggelegar tak karuan.
Istirahatlah, karena dirimu telah lama berjuang; Henti一Berhenti, bukannya mati.
-kndhythm.
Tuesday, December 11, 2018
Aku harap
Sekuat-kuat hati ini
Ada masa ia jadi serapuhnya
Setabah-tabah diri ini
Adakala air mata mengalir jua
Aku harap kau mengetahuinya
Kini
Aku tak mau terlalu cinta
Juga tak mau terlalu sayang
Karena
Yang namanya keterlaluan
akan berakhir menyakitkan
Wednesday, October 17, 2018
A Letter
Dearest,
With tears, from both my eyes and my heart, right now, while remembering that story, I want to thank you for being so good to me, for always patiently listening to me and guarding me.
If you want to go and rest, I will respect your decision, the way you have been understanding me. Pure and deep. You know, you are always in my heart. Wherever you are.
Live. Let's live. Tommorow is here, now.
I love you, very much.
Yours.
