Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Thursday, July 7, 2022

To Be Stranger Again

Today I feel like a stranger to
Someone known
I feel more than alone
The world seems so small now
My eyes are full of tears 
But my memories are clearer than ever
I want to be near to the
One i know
But i guess that's my view
Cos he considers me to be a stranger
And nothing more

Monday, June 27, 2022

Ketiadaan

Hanyalah kerangka, yang begitu banyak harap.
Begitu besar, menuntut tuhan atas segala dekap.
Bersamanya, hingga tak lagi melihat gelap.
Pusaka rasa masih terlihat suap.

Aku berharap, semoga hingga kelak masih terlihat kuat.

Thursday, June 23, 2022

The Reason

I'm not wounded by love
Rather, by the torment,
That comes next
When there's no more.

When you said your goodbye——
A cold indifference filled your voice.

It shattered my heart
It killed me inside,
You spoke aching words,
You——
Had fallen out of love.

Monday, May 9, 2022

Apa Kabar Rasa?

 Ada yang ingin kutulis

Mengingat baru saja kulihat film terusan lama

Tentang sebuah keputusan yang tertunda

Tentang temu kembalinya dua insan manusia

Setelah lama terpisah oleh keadaan


Ada yang ingin kutuang

Ada yang ingin kutumpahkan 

Di sela sebelum waktu kembali memanggang


Ada hati yang gaduh

Ada cinta yang terlalu rapuh

Benih yang tak kunjung ranum

Pun kedukaan tak begitu anggun


Bukan tentang cinta yang tega

Meninggalkan tunangannya

Atau perjuangan seorang pria dengan puisinya

Secarik kertas— surat menyurat lewati dinding halaman teratas


Apa kabar rasa?

Kau yang selalu ada

Di kamar tidur, meja makan, dan ruang tamu

Di sepeda motor, restoran-restoran, apartemen hingga gedung berkaca


Masih tentang hati yang gaduh

Dalam kandungan tinta lama

Di secarik kertas usang— menguning


Tersurat ia kepada jagat

Bukan demi pundi-pundi duniawi

Bukan pula untuk dibongkar traktor-traktor masa kini

Kudandani ia begitu cantik— menurutku saja


Apa kabar rasa?

Pria dengan luka menganga

Panah dilepas dalam warna berbeda

Duri tenggelam di wajah aslinya


Apa kabar rasa?

Apakah semua ini hanya rekayasa?

Saturday, November 14, 2020

Jatuh dan Cinta

Aku jatuh cinta…

Aku jatuh cinta pada seseorang yang hanya sanggup aku gapai sebatas punggungnya saja.

Seseorang yang hanya sanggup aku nikmati bayangannya, tapi tak akan pernah bisa kau miliki.


Seseorang yang hadir bagaikan bintang jatuh sekelabat kemudian menghilang begitu saja,

tanpa sanggup tangan ini mengejarnya.

Seseorang yang hanya bisa aku kirimi isyarat sehalus udara, langit, awan, atau hujan.


-Dee

Monday, October 26, 2020

Pukul 4 Pagi

 Tidak ada yang bisa diajak berbincang.

Dari jendela kau lihat bintang-bintang sudah lama tanggal.
Lampu-lampu kota bagai kalimat selamat tinggal.
Kau rasakan seseorang di kejauhan menggeliat dalam dirimu.
Kau berdoa: semoga kesedihan memperlakukan matanya dengan baik.

Kadang-kadang, kau pikir, lebih baik mudah mencintai semua orang daripada melupakan satu orang.
Jika ada seorang telanjur menyentuh inti jantungmu,
Mereka yang datang kembali hanya akan menemukan kemungkinan-kemungkinan.

Dirimu tidak pernah utuh. Sementara kesunyian adalah buah yang menolak dikupas.
Jika kau coba melepas kulitnya, hanya akan kau temukan kesunyian yang lebih besar.

Pukul 4 pagi. Kau butuh kopi segelas lagi.

Wednesday, October 21, 2020

Sebelum Hujan Reda

Sebelum hujan reda
Aku tak sempat berteduh
Sebab rintiknya adalah puisi
Dan rinainya adalah kamu

Di bawah derai yang deras
Deru dadamu kudengar berdetak
Berdentum bagai angin yang silir
Berdebar bagai napas yang sengau

Sebelum hujan reda
Gelombang matamu membanjiri segenap mataku
Dan membasahi rindu
Yang kubawa dari perjalanan

Aku berjalan di antara hujan
Yang perlahan reda
Sedang di jalan itu,
Rindu kian deras
Membasahi pipimu yang landai
Dan mengguyur tubuhmu yang jatuh
Ke dalam pelukan hujan
Yang tak pernah reda
Sebab kau menjadi derai dan derasnya. 

-MHK-

Friday, October 16, 2020

Kabar Hari Ini

Kudengar kabar hari ini
Bahwa angin enggan berembus
Matahari meminang sinarnya sendiri
Tak rela ia biaskan pada bumi
Sebab kau.
Sebab kau yang memintanya.

Kudengar kabar hari ini
Senja sore nanti,
Ia tak akan memamerkan warnanya
Sebab ia malu
Pada warna yang merona
Di antara lekuk bibirmu
Dan dua matamu.

Kabar tentang hujan hari ini
Kuhentikan dengan kata
Dengan gerimis yang tak jadi kau genggam
Dengan rindu yang tak jadi kau bungkam.

Kudengar kabar
Kau akan mengusik senja
Jika ia berani mengusik matamu.

Jakarta, 041218

-MH. Kholis-

Thursday, July 16, 2020

Hujan

Hujan mengawali tahun yang baru
Seolah ingin mengingatkan Kita
Serupa air Yang pergi dari bumi,
Segala yang pergi akan kembali,
Hanya dalam bentuk yang berbeda,
Bisa berupa kenangan atau pelajaran,
Semua tergantung pada
Kuat lemahnya pikiran

Hujan membawa pesan,
Jangan berhenti pada perayaan
Lanjutkan dengan perenungan
Tirulah sifat-sifat air
Meski telah pergi, ia tetap memiliki arti
Karena dia selalu kembali
Hanya banyak diri yang tidak menyadari

Friday, March 13, 2020

If You Fall Now

remember

if you fall now,
you fell before
and learned to walk again

if you cry now,
you cried before
and learned to hope again

if you fail now,
you failed before
and learned to get up again

remember
the hell you have conquered

remember
always
the strength 
within 
you

Monday, January 6, 2020

The Best Version of Yours

pause and listen

inhale

exhale

every breath you take
is a little promise 

to get back up
after failure 

to build courage
after broken heart

to find peace 
after tears

every breath you take
is a little promise

to move on

to live

to be the best
version
of yourself

Friday, January 3, 2020

Strength

strength 
is not found 
in loud shout
of brave words

strength
is not found
in lullaby of
grand promises

strength
is in tears
of heartbreak
that try to
heal

strength
is in shivering hands,
fearful,
as they fight to
face the storms

strength is
every one of you
still
fighting

Tuesday, August 6, 2019

Cukup

Petang ini, kupinjam wujudmu
yang mengingkar dengan kejam;
beri sayap untuk dipatahkan–
Sungguh perih tak terelakan

Tegur sapamu hanyalah padam
berpendar dalam nyala kunang-kunang
merindu akan lenyap--memudar
tersadar
dari mimpi-mimpimu
yang tak dapat kurengkuh

Termangu dalam ramai kesepian
hanyut dalam harap–tak berhulu
tangkap desir syahdu kekecewaan–dalam bising
yang kian lama makin meruap

Adamu adalah sorai yang senyap
dalam riuh kepulangan cericit burung yang sedih
di tengah hujan
yang nyata hanyalah rana; merona di pipimu menyala
denganmu, abadi adalah fana
dan malam berkunjung ke rumahku menanyakan mati

Dari karsamu dan sedikit rasa
yang perlahan mulai menepi
jauh dari beranda mataku
jauh dari jalan-jalan yang pernah kita lalui

- Jakarta Di Ujung Pena

SABUR; LEBUR

-
Setahun pertama aku sentosa
Didekap hangat rahimnya
Juga akrab dengan hati ibunda
Sampai-sampai aku dibangunkan semesta

Lalu luka-luka terbit
Beserta keseriusan yang menjerit
Lambat pasal-pasal berdecit
Yang akhirnya bebasku menyempit

Dua tahun pertama aku sejahtera
Tertidur dalam gendongan ayah
Mencintainya tanpa luka
Sampai-sampai aku ditikam realita

-
Semua tak lagi sama
Duka tak pernah ingin sirna
Menghujani hati penuh luka
Tanpa henti tanpa jeda

-
Lidah kelu tiada kata
Tangis pecah tiap pukul tiga
Tergerus aku oleh air mata
Mendamba bahagia tetapi merana

-
Aku pikir akan terus bahagia
Baik-baik saja pun tak selamanya bisa
Sebab luka yang terus tercipta
Membuatku sesak menelan air mata

-
Kini bahagiaku telah terganti
Oleh pekatnya luka tanpa henti
Mencoba menggores setiap sisi
Hati yang tiada utuh lagi

-
Ibu ayah,
Semoga saja kita tak limbung; dilumat isak tak berujung.

— 2019.

Tuesday, March 19, 2019

Kau Pasti Tidak Akan Ada Lagi

Jika ada yang bisa menerima luka lebih tabah dari hujan bulan juni, tentu ia adalah bibirmu. Samudra maha luas yang menenggelamkanku pada harapan dan kepasrahan pada waktu bersamaan.

Aku suka samudra sejak langit matamu memantulkan mataku. Aku luka—dan kalian adalah biru. Lalu dalam gelombang kembara di tubuhmu, kutemukan sisa-sisa aku yang kambang berserak di bilik-bilik cilik dalam dadamu. Kau adalah yang paling aku—harapan serupa lampion yang kelak takut kurela pada laut lepas. Sebab, mengutuhkan kita pasti akan menjadi palung yang paling.

Kita masih serupa anak kecil yang selalu saja mendamba peluk satu sama lain. Atau, kalau keakuan sedang kerdil, kita suka sekali main berlama-lama di bawah sinar matahari tanpa memikirkan bagaimana kusamnya kulit kita nanti.

Namun, aku tidak ingin menjadi seperti itu lagi. Karena, dengan sadar yang utuh, aku paham bahwa nanti kau juga akan beranjak pergi—ke pantai, perpustakaan, luar kota, atau ke mana saja yang tidak ada aku. Maka pasti—dengan terpaksa—aku harus menyembuhkan lukaku sendirian. Aku tak punya kau lagi sebagai yang menggenggam kala ombak terlalu ganas, atau yang menyelam di kedalaman mataku untuk mereguk semua takut.

Aku kembali sendirian.
Malam kembali menyepi.

Padahal dahulu aku akrab sekali dengan rasa-rasa ini; rasa sendiri, sepi, juga gigil, tetapi tidak lagi setelah kau sempat bertandang. Aku menjadi seseorang yang tidak ingin menjalani hari tanpa menatap matamu. Menjadi yang tidak ingin hilang, terlepas—atau dilepas—, dan tidak dimimpikan.

Maka kau mutlak harus segera pergi. Aku tak ingin punya candu pada apapun yang tak bersedia kekal untukku. Mulailah bersiap, akan kusiapkan juga bekal perjalananmu, yang terbaik, pasti. Tidak apa-apa, aku cukup kuat untuk menahan luka akibat pisau-pisau ingatan yang menyayat di hari-hari yang setelah ditinggalkanmu.

Tidak apa-apa, kenangan akan kuusahakan lesap. Meski dengan begitu, aku harus terus berdarah, lalu bernanah,

lalu tidak ingin sembuh.

Thursday, February 28, 2019

Di Ujung Sunyi

Di antara keheningan hitam yang merundung
Dititipkannya diksi seribu birahi pada langit yang bisu
Dituliskannya larik-larik sajak pada bintang yang menari

Dipanjatkan sebuah rapal kata pada Tuhan pengganti kata cinta
Bukan cinta yang mekar di mata yang berujung air mata
Bukan pula cinta yang hanya sekadar guratan puisi berujung patah hati

Di ujung sunyi ku berkata
Bahwa cinta yang tadi timbulnya dalam hati agar kelak menjadi taman bunga yang merekah wangi memesona
Perangainya yang luar biasa bukan sekadar rupa
Untuk menyiasatinya rasanya tak cukup sekadar kata-kata
Maka kusiasati dengan berkata pada-Nya
Yaitu dengan cinta berwujud doa.

Sunday, February 10, 2019

H e n t i

Nanti, jika dirasa tidak kuat berhentilah sejenak.
Nanti, jika dirasa dirimu telah berat menopang bukit berbatu itu一istirahatlah sesaat.

Henti一Berhenti, bukan berarti kamu lemah. Pun, bukan berarti kamu tak kuat menopang itu semua.
Dirimu hanya perlu rehat, kamu bukan robot, sayang.

Jangan terlalu memaksakan jika dirimu tak mau tertelan.
Tertelan oleh dekapan sungkawa yang akan membinasakan-mu.
Ingat, kamu bukannya lemah.
Kamu hanya perlu Henti一Berhenti sejenak.

Atmamu butuh rehat dari segala hiruk-pikuk kehidupan ruwet yang nelangsa itu. Henti—berhenti tapi, jangan lupa untuk berdiri lagi.

Henti—berhenti untuk memaksakan dirimu tidak apa-apa,
Sedang dirimu meronta-ronta kesakitan.

Berhentilah untuk menjadi tegar,
Sedang perasaan dan pikiranmu menggelegar tak karuan.

Istirahatlah, karena dirimu telah lama berjuang; Henti一Berhenti, bukannya mati.

-kndhythm.

Tuesday, December 11, 2018

Aku harap

Sekuat-kuat hati ini
Ada masa ia jadi serapuhnya

Setabah-tabah diri ini
Adakala air mata mengalir jua

Aku harap kau mengetahuinya

Kini
Aku tak mau terlalu cinta
Juga tak mau terlalu sayang

Karena
Yang namanya keterlaluan
akan berakhir menyakitkan

Wednesday, October 17, 2018

A Letter

Dearest,

With tears, from both my eyes and my heart, right now, while remembering that story, I want to thank you for being so good to me, for always patiently listening to me and guarding me.

If you want to go and rest, I will respect your decision, the way you have been understanding me. Pure and deep. You know, you are always in my heart. Wherever you are.

Live. Let's live. Tommorow is here, now.

I love you, very much.
Yours.

Saturday, October 13, 2018

Always Be My Dad



If I could write a story
It would be the greatest told
Of a kind a heart of gold

I could write a million pages
But still be unable to say
Just how much I love
And miss him, every single day

I will remember all he taught me
I’m hurt, but won’t be sad
As he’ll send me down the answers
And he’ll always be my dad