Showing posts with label surat. Show all posts
Showing posts with label surat. Show all posts

Wednesday, October 17, 2018

A Letter

Dearest,

With tears, from both my eyes and my heart, right now, while remembering that story, I want to thank you for being so good to me, for always patiently listening to me and guarding me.

If you want to go and rest, I will respect your decision, the way you have been understanding me. Pure and deep. You know, you are always in my heart. Wherever you are.

Live. Let's live. Tommorow is here, now.

I love you, very much.
Yours.

Saturday, October 13, 2018

Always Be My Dad



If I could write a story
It would be the greatest told
Of a kind a heart of gold

I could write a million pages
But still be unable to say
Just how much I love
And miss him, every single day

I will remember all he taught me
I’m hurt, but won’t be sad
As he’ll send me down the answers
And he’ll always be my dad

Saturday, August 4, 2018

The letter

I hope we last,  I hope we do.

But if we don't, this is how I want you to remember me:

I want you to remember me curled up, listening to the sound of your heartbeat and tracing maps across your skin. Remember me launching at your jokes even the stupid ones.
Remember me on hysterics for absolutely no reason and in tears because one time you made me so sad neither of us thought I'd recovery.
Remember me brave, that time you held my hand and I thought I was going to die;
Remember me scared and gentle and delicate and breakable - only for you though only for you.
Remember me happy, and all the ridiculous ways I tried to get your attention. Remember the way I was stubborn to talk to you and how absolutely insane it drove the both of us.
Remember all the firsts and how they were so delightful we went back for seconds and thirds and fourths. Remember the songs you couldn't stop listening to and the childish dreams you allowed yourself about the future. If it's any consolation I allowed myself to have then too.

If it comes to it I don't want you to remember the ending.

Remember the beginning. Remember the first time you knew.

Monday, June 18, 2018

Give Anything Up

Nobody could say they knew everything about you. No one was close enough for you to share everything with. For the next while, I’m going to have to think hard about how lonely, angry and sad you had to be.

Why you made your final choice in the end and what you were trying to tell everyone who was left behind. ​​I’m sorry I couldn’t hold the hand that you reached out for me to hold harder. Because of this, my heart hurts even more.

​​The weight you were carrying was too much to handle for just being you. And you couldn’t do anything because you came too far to give anything up.
​​The day before I sent you off, you came to my dreams to tell me that I need to be happier, smiling brightly. I can still see that smile clearly in my head.

Everyone goes through hardship and sadness and you can’t compare who has it worse. To each person their emotion and situation could be the hardest to handle. I suffered from severe depression and I spent everyday thinking that it would be better to die then breathe on.

Tuesday, April 17, 2018

Maafkan aku.

Dalam langkahku ke tempatnya berada,
Ku temukan secarik kertas, bertuliskan:
'kak, aku kangen!'

Seketika duniaku terhenti, tertampar dengan apa yang barusan aku baca.
Tertegun, tanganku dingin, wajahku memucat, badanku menggigil.
Hatiku sakit.

Aku terlalu sibuk dengan sakitku
Sampai aku melupakan sekelilingku
Sampai aku lupa merasakan yang dia rasakan

Bodoh, sangat bodoh.
Aku sebagai seseorang yang dekat dengannya
Bahkan tidak tahu bagaimana perasaannya
Yang aku pikirkan cuma aku, aku, dan selalu saja aku.
Padahal dia membutuhkanku.

Aku melihatnya tertidur, dengan mata sembab.
Seharusnya aku yang pertama mengerti dia.
Seharusnya dia bercerita tentang apa yang dia rasakan ke aku.
Seharusnya aku yang menemani dia di saat seperti ini.
Tapi apa?
TAPI APAAAA?

Aku semakin marah, semakin membenci diriku sendiri.
Maafkan aku, tak menghiraukanmu.

Sunday, March 18, 2018

Di 70 tahunmu



Fajar masih belum timbul
Tapi sudah ada yang terjaga dari tidur
Mensucikan diri membasuh hati
Bergegas menjemput ridho dalam sholat

Keteduhan terpancar di wajahnya
Mententramkan hati bagi yang memandang
Ketika bertukar cerita
Banyak kisah yang jadi teladan

Kesederhanaan dan kesalehan
Menjadi gambaran tentangnya
Bercermin pada diri sang Nabi
Membuatnya sosok sejati

Di usia senja jadi tempat bermanja
Menggiring para cucu agar berilmu
Doa tetap terukir di langit jiwa
Karena kini adalah hari jadinya ke-70

Thursday, March 8, 2018

Perempuan Dalam Tangis

Dia, perempuan itu
menundukan dalam kepalanya
memikirkan kejadian yang baru saja terjadi

Bercerita pada angin
pun percuma
karena tidak akan pernah merasakan

Dalam kecewa
ia tumpahkan segala
ketidakadilan, menurutnya
serasa dunia runtuh

Satu keinginannya selama ini
berubah menjadi ketakutan terbesar
tidak ada yang berpihak pada dia

Menangis sejadinya semalam suntuk
dan tetap beranggapan ketidakadilan dunia
hanya bisa bercurah kepada yang mempunyai hati
sampai lelah ia bertunduk

Thursday, October 27, 2016

Sampai Bertemu

Hari kemarin,
Adalah hari terakhir bersamanya.
Bersama matanya,
Senyumnya.

Hari ini,
Aku mencoba tidak memerdulikan kepergiannya.
Mencoba acuh
Aku ingin menjadi lebih kuat
Tanpa harus menangisi keadaan
Terlalu tua usiaku untuk melakukan hal itu
Bahkan semalam pun tak ada ucapan perpisahan.

Bukan untuk pengakuan.
Karena ku tahu, perpisahan itu menyakitkan.
Sekali pun kepergiannya untuk kebaikan.

Tapi pada akhirnya,
Aku mengakui, hatiku gelisah.
Dan mengikuti kepergiannya.
Pada detik-detik terakhir, walau singkat.

Terima kasih.
Selamat menikmati hidup.
Sampai bertemu 7 hari kedepan.

Monday, May 16, 2016

Tentang Rasa

Pada hari yang seharusnya membuat kita semua bahagia.

Tapi kenyataannya, masih ada yang tidak bahagia.

Karena saat melihat orang lain bahagia, kita pasti akan merasa lebih kesepian.

Bahkan jika kita kesepian, kita akan berpura-pura ikut bahagia.

Karena sebuah alasan kita tak bisa menemui seseorang.

Dan juga tak bisa bertemu karena alasan yang lain lagi.

Dan juga ada diantara kita yang terus menunggu.

Kita semua berpura-pura bahagia dan baik-baik saja.

Pada hari ini, kita akan lebih merindukan seseorang.

Tuesday, February 2, 2016

Kepada Bintang

Surat ini kutulis bersama hatiku
yang dalam diam
mencintaimu.

Kepadamu, Bintang,
yang tidak pernah mengetahui perasaanku, kutuliskan surat ini. Dan entah mengapa, aku hanya ingin menulisnya untuk mengungkapkan segala perasaan yang sudah terlalu besar untukmu. Aku ingin merasa sedikit lega, meski kutahu surat ini hanya akan berakhir di sudut lemariku saja.

Ya, mana mungkin aku yang 4 tahun sebagai pengecut; mencintaimu dalam diam, tiba-tiba datang dan memberimu pernyataan cinta melalui surat? Hah! Tidak mungkin!
Malah kalau benar itu terjadi, kupastikan aku sudah lebih dulu pingsan sebelum sampai menyerahkan surat ini padamu!

Begini, Bintang.
Atas beberapa tahun pertemanan kita, aku bersyukur. Sebab masih bisa kujaga perasaanku ini, tak tersentuh orang lain, dan kusisakan hanya untuk dirimu saja.
Aku menyukai senyumanmu. Senyum manis di antara pipimu yang chubby. Aku juga menyukai rambut yang sedikit ikalmu, matamu yang tajam sedikit sayu, dan bagiku tidak ada yang kurang dari penampilanmu.
Terbukti dari sekian banyak perempuan yang sudah menyatakan cinta padamu, tapi entah mengapa tetap tak ada yang kaujadikan kekasihmu. Sampai hari ini, aku masih heran dengan kamu. Sebab semakin lama kamu tidak memiliki kekasih, diam-diam, semakin sering pula aku berdoa untuk kesempatanku yang mungkin diaminkan Tuhan.

Aku ingat, siang itu ketika kita praktekum di kampus. Hari tengah terik dan capek mengerjakan praktekum. Dengan baik hati, kamu membawa sebotol minuman dingin kepadaku. Dan aku senang. Mungkin kamu tidak menyadarinya, tapi sesederhana itulah, cintaku tumbuh dan terus bertambah sejak saat itu untukmu.

Bintang,
aku harap kamu tetap berada di dekatku, meski sebagai teman terbaikku. Tidak apa, Bintang. Aku tidak akan pernah berani meminta apa-apa darimu, kecuali menjadi teman di dekatku.

Kututup surat pertamaku ini untukmu, Bintang,
dengan perasaan yang kacau,
jantung yang berdetak begitu kencang,dan napas yang sungguh berat.

Sebab aku mencintaimu,
dan ini surat pertama pernyataanku!



Senja.
Jakarta, 2 Februari 2016
23:26

Wednesday, January 6, 2016

Dalam Diam, Mencintaimu

Malam ini, hampir semua orang Jakarta mengumpat kesal karena kecelakaan kereta di Stasiun Juanda. Kereta yang terguling hingga keluar rel itu menyebabkan kemacetan di mana-mana, menghasilkan umpatan di penjuru stasiun, dan aku ada dalam salah satu orang yang merasakan betapa Jakarta-ku tidak semenyenangkan Jogja-mu.
Aku memilih untuk menaiki salah satu ojeg berbasis online untuk menuju Depok dari Stasiun Tebet menuju meeting ketiga hari ini. Mungkin, kamu tidak akan pernah tahu, di tengah semerawutnya duniaku-- aku masih punya waktu untuk merindukanmu.Dengan sisa kekuatan yang aku punya, aku sampai di Margocity untuk melanjutkanmeeting buku selanjutnya.
Buku Mengais Masa Lalu segera terbit dan ada beberapa hal yang perlu dibicarakan dengan penerbitku. Pening akibat flu masih terasa begitu menusuk, aku pulang dengan menaiki taksi, dan tak lagi punya kuasa untuk menggerakan tubuhku. Di sepanjang jalan, aku mendengar suara gema takbir, yang mengingatkanku pada riuhnya suara takbir di Jogjakarta.
Aku ingin pulang dan lelah dengan semuanya. Meskipun aku selalu jatuh cinta pada pekerjaanku, tapi aku pun ingin tahu rasanya jatuh cinta dan tergila-gila pada seseorang sepertimu. Sekarang, aku terbaring lemah di ranjangku, dan hanya bisa membaca ulang percakapan kita beberapa hari yang lalu. Mungkin, kamu tidak akan pernah tahu, di tengah kelelahanku sebenarnya aku masih membutuhkanmu.
Kalau boleh jujur, aku sangat ingin ditenangkan oleh percakapan kita seperti beberapa hari yang lalu. Saat kamu menanyakan apa saja yang sudah aku makan, saat kamu menasehatiku banyak hal, saat kamu membuatku semakin merindukan Jogjakarta, saat kamu bercerita tentang pekerjaanmu hari ini, saat kamu selalu berhasil membuatku tertawa, dan saat kita masih dalam keadaan baik-baik saja.Aku tidak berkata bahwa saat ini kita tidak baik-baik saja, tapi bisakah kau menjawab apa yang terjadi di antara dua orang; yang sekarang tidak lagi saling menyapa ketika beberapa hari yang lalu mereka masih bisa tertawa dan bercanda?
Aku merindukanmu, merindukan percakapan kita hingga larut malam. Aku rindu diriku yang rela menunggumu hingga kamu selesai mengedit video dan pekerjaanmu. Aku rindu melihat ponselku hanya untuk membaca semua pesanmu. Aku rindu kebahagiaan kecil yang kau berikan padaku, kebahagiaan-kebahagiaan yang bahkan sulit untuk dijelaskan dan diartikan.
Aku jelas jatuh cinta, sayangnya (mungkin) kamu tidak merasakan perasaan yang sama.
Beberapa hari ini, aku menepis dan melawan keinginanku sendiri untuk tidak lagi mencari tahu tentangmu. Karena bagaimanapun aku menangis, mengeluh, bercerita di dunia maya, atau apapun itu-- tidak akan membuatmu paham dan mengerti.
Ada gadis yang diam-diam mencintaimu dan kamu ikut diam seribu bahasa seakan kamu tidak bisa membaca semua tanda. Maka, aku salah dalam segala, karena tidak berani mengungkapkan perasaanku, dan semua orang tentu menyalahkanku, menyalahkan keadaan, dan menyalahkan ketololanku karena rasanya terlalu cepat jika aku jatuh cinta padamu. Lalu, apa salahnya jatuh cinta pada orang yang baru kita kenali? Apakah aku berdosa karena mencintaimu meskipun perkenalan kita hanya sebataschat?Kamu tidak akan pernah tahu ini semua dan tidak akan pernah tahu betapa aku lemas melihat salah satu foto Instagram-mu dengan seorang perempuan.
Uh, iya, aku tahu, Fa-mu ini terlalu sering pakai perasaan. Aku paham bahwa aku bukan tipemu, astaga perempuan sepertiku yang gampang nangis ini tidak akan pernah cocok bersanding dengan pria sekuat kamu. Tidak akan pernah dan aku sangat sadar soal itu. Apalagi berhak cemburu? Aku tahu, aku tidak punya hak, tidak punya wewenang untuk mengaturmu berfoto dengan siapapun. Yang aku tahu, aku mencintaimu, dan biarlah ini menjadi rahasiaku, dan biarlah ini menjadi perasaan yang selamanya (mungkin) tidak akan pernah kautahu.
Jadi, biarkan Fa-mu tetap jadi perempuan yang selalu diam. Karena dari semua diam itulah yang membuat dia bisa menghasilkan banyak tulisan. Jadi, aku akan terus diam, menatapmu dari jauh, mendoakanmu dari sini. Aku akan sukses dengan ceritaku. Kamu akan sukses dengan duniamu. Dan, dunia kita tidak akan pernah bertemu di satu titik meskipun sama-sama berjalan beriringan.
Aku tahu, doa kita tidak akan pernah sama, aku mendoakanmu, kamu mendoakan entah. Tapi, percayalah, dari ribuan gadis yang memujamu, akan selalu ada aku yang berharap Tuhan selalu memelukmu dengan erat, seerat rinduku yang tidak pernah habis untukmu
Aku ingin tertidur sambil mendengarkan lagu band-mu yang teriak-teriak itu. Berharap bisa teriak bersamamu, di Jogjakarta, di pantai manapun, asal sambil menggenggam jemarimu.Dari Fa-mu,yang akan selalu diam-diam; mencintaimu.